Tampilkan postingan dengan label Ruang Kisah dan Hikmah. Tampilkan semua postingan


Kisah di Goa Tsur pada Masa Hijrah




Sahabat, masih ingat tentang kisah lebah dan laba-laba kan? Emh, ternyata sarang laba-laba pernah jadi perantara ALLAH untuk melindungi persembunyian Rasulullah SAW di goa Tsur lho…
Mau tau kisahnya? Yuk kita simak cerita berikut ini…

Suatu ketika pada masa hijrah Rasulullah SAW, saat Rasulullah SAW hendak hijrah ke Madinah, para pemuda kaum kafir Quraisy merencanakan niat jahat untuk membunuh Rasulullah SAW di rumahnya. Namun, ALLAH begitu mencintai Rasulullah, ALLAH pun memberitahukan kepada Rasulullah bahwa para kaum Quraisy telah merencanakan pembunuhan untuknya. ALLAH memberikan suatu petunjuk pada Rasulullah SAW, dan Rasulullah SAW pun akhirnya meminta Ali bin Abi Thalib r.a. untuk tetap berada di Makkah serta menggantikan ia untuk tidur di tempat tidurnya.
Saat malam menjelang, para pemuda Quraisy berkumpul di depan gerbang rumah Rasulullah SAW. Mereka mengintip ke dalam kamar dan melihat sosok Rasulullah SAW tengah berbaring di tempat tidurnya. Para pemuda Quraisy merasa senang karena yang mereka incar belum kabur dari rumahnya. Menjelang larut malam, Rasulullah SAW keluar dari rumahnya dan menuju kediaman Abu Bakar setelah beliau membacakan surat yang diberi nama dengan kalimat pembukanya, Yasiin. Ketika sampai pada kalimat, “Dan, Kami adakan di hadapan mereka dinding dan di belakang mereka dinding pula dan Kami tutup (mata) mereka sehingga mereka tidak dapat melihat.” (QS Yasin [36]; 9).
Lalu, Rasulullah SAW dan Abu Bakar keluar melalui jendela pintu belakang tanpa diketahui oleh pihak Quraisy dan terus bertolak ke arah selatan, ke arah Yaman, menuju Gua Tsur. Hal itu dilakukan untuk mengelabui para pemuda Quraisy tersebut. Mereka menutup semua jalur menuju Madinah. Para pemuda Quraisy berencana akan menyergap Rasulullah SAW saat itu.
 Akhirnya tibalah waktunya untuk para pemuda Quraisy menyergap Rasulullah SAW, namun apa yang mereka dapatkan?! Mereka terkejut seketika saat mendapati bahwa yang sedang berbaring di tempat tidur Rasulullah SAW adalah sahabatnya, Ali r.a. Mereka pun marah dan merasa kecolongan, karena merasa tidak melihat kapan Rasulullah SAW beranjak pergi dari rumahnya. Di sisi lain, Rasulullah SAW dan Abu Bakar telah sampai di goa Tsur dan bersembunyi disana.

Tiada seorang pun yang mengetahui tempat persembunyian Rasulullah SAW dan Abu Bakar tersebut, selain Abdullah bin Abu Bakar, Aisyah, dan Asma’ serta pembantu mereka, Amir bin Fuhaira. Abdullah diperintahkan untuk mengawasi gerak-gerik Quraisy pada siang hari dan memberitahukan keadaan di sekitar goa pada malam hari. Amir bin Fuhaira bertugas menyiapkan kendaraan untuk Rasulullah SAW dan Abu Bakar, sedangkan Asma bertugas untuk mengantarkan makanan ke gua.

Sementara itu, kaum Quraisy terus berusaha mencari jejak dan keberadaan Rasulullah SAW. Selain mencari ke tempat lain, sebagian di antara mereka ada yang mendatangi goa Tsur. Tidak jauh dari goa Tsur tersebut, mereka bertemu seorang gembala (menurut sebagian riwayat, penggembala itu adalah Amir bin Fuhaira), yang lalu ditanya oleh para utusan Qraisy dan menjawab : “Mungkin saja mereka dalam goa itu, tapi saya tidak melihat ada orang yang ke sana.”

Lalu, orang-orang Quraisy datang menaiki gua itu. Tapi, kemudian, ada yang turun lagi. “Mengapa kau tidak menjenguk ke dalam gua?” tanya kawan-kawannya. “Ada sarang laba-laba di tempat itu yang memang sudah ada sebelum Muhammad lahir,” jawabnya. “Saya melihat ada dua ekor burung dara hutan di lubang gua itu. Jadi, saya mengetahui tak ada orang di sana,” seru yang lainnya.

Di depan mulut goa Tsur, terdapat sarang laba-laba, sarang burung dara, dan cabang pohon akasia yang menjuntai ke arah gua. Pohon akasia ini digambarkan memiliki ketinggian kira-kira setengah tinggi manusia. Di celah antara pohon dan dinding goa terdapat seekor laba-laba yang telah membuat sarangnya. Kemudian, di lubang goa -tempat seseorang mungkin akan melangkah jika ingin memasuki gua- ada seekor burung dara telah bersarang dan sedang duduk seakan-akan mengerami telur-telurnya. Sementara itu, pasangannya yang jantan sedang menjaga si betina mengerami telur-telurnya di dekat pohon yang mengarah ke goa.
Sarang laba-laba, dua ekor burung dara, dan pohon akasia inilah mukjizat yang diceritakan oleh buku-buku sejarah hidup Rasulullah SAW mengenai masalah persembunyian dalam goa Tsur tersebut. Melihat kondisi ini, orang-orang Quraisy pergi meninggalkan goa dan berpindah mencari Rasulullah SAW ke tempat lain.
Sementara itu, Abu Bakar merasa khawatir jika keberadaan mereka akan diketahui pihak Quraisy. Rasulullah SAW pun berkata untuk menenangkan hati Abu Bakar r.a., “Jangan takut, Allah bersama kita.” (QS Al-Anfal [9]; 40).

Itulah cerita singkat mengenai persembunyian Rasulullah SAW di goa Tsur, yang salah satunya dilindungi ALLAH melalui perantara sarang laba-laba dan persembunyian Rasulullah bersama Abu Bakar r.a menjadi aman tidak diketahui oleh orang-orang Quraisy.

Wallahu’alam bishawab…semoga bermanfaat…

Sumber :
1.    Al-Qur’an.
2.   http://pemudapersisgarut.wordpress.com/2010/12/09/berbagai-peristiwa-seputar-hijrah-rasulullah-saw/.
3. Foto : https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiNSdcXQSyj7u1lbZ9v9o-G4EsSVfgh6YEwxHJhQi9q1n39ePqxEGk2BHRWUm6JDxKvSB_a3ko6HNxDsTwISOT6WbzhIVGbcYQDxx745wZf8ft3K5xzFQVQhIyA8i_UcHQNwUOWwTCnA9Wb/s1600/ilustrasi-hijrah_thumb.jpg.

Read More

MENGINGAT SEJARAH KELAHIRAN “INSAN UTAMA”





Bismillaahirrahmaanirrahiim…

Sahabat, masih ingat kisah kelahiran Nabi Muhammad tidak? Emh, yuk kita refresh lagi ingatan kita tentang kelahiran Nabi Muhammad SAW, supaya kita dapat meneladani apa yang ada dari dalam diri Rasulullah SAW…

Nasab Rasulullah SAW yang telah disepakati adalah Muhammad bin Abdullah bin Abdul Muthallib (namanya Syaibatul Hamd) bin Hisyam bin Abdi Manaf (namanya al-Mughirah) bin Qushayyi (namanya Zaid) bin Kilab bin Murrah bin Ka’ab bin Lu’ay bin Ghalib bin Fihr bin Malik bin an-Nadhar bin Kinanah bin Khuzaimah bin Mudrikah bin Ilyas bin Mudhar bin Nazar bin Mu’iddu bin Adnan.
Adnan termasuk anak Isma’il, Nabi ALLAH, bin Ibrahim, kekasih ALLAH. ALLAH telah memilihnya (Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam) dari kabilah yang paling bersih, keturunan yang paling suci dan utama. Tak sedikitpun dari “karat-karat” jahiliyah menyusup ke dalam nasabnya.

Setiap tahun, umat Muslim mengingat kembali hari kelahiran Nabi Muhammad SAW sebagai bahan refleksi akan kecintaan terhadap Rasulullah. Hari dimana ALLAH melahirkan sosok sempurna yang menjadi penerang dan teladan bagi umat manusia, sosok yang kemudian mengajarkan manusia akan hal yang haq dan yang bathil. Sekarang, hari kelahiran Rasulullah Muhammad SAW diperingati sebagai Maulid Nabi Muhammad SAW, terkadang disebut Maulid Nabi atau Maulud saja (bahasa Arab: مولد، مولد النبي‎, mawlidun-nabī).

Nabi Muhammad SAW dilahirkan pada Senin malam tanggal 12 Rabi’ul Awwal, tahun Gajah. Tahun gajah merupakan tahun dimana Abraham al-Asyram berusaha menyerang Makkah dan berupaya menghancurkan Ka’bah. Rasulullah dilahirkan dalam keadaan yatim. Ayahnya, Abdullah, meninggal ketika ibunya mengandungnya usia dua bulan. Rasulullah kemudian diasuh oleh kakeknya, Abdul Muthallib. Sebagaimana tradisi Arab waktu itu, Rasulullah bayi disusui oleh seorang wanita dari bani Sa’ad bin Bakar bernama Halimah binti Abu Dzu’aib.

Setelah kelahiran Rasulullah SAW, banyak terjadi peristiwa sejarah (sirah) dalam Islam yang bermakna hingga sekarang. Kisah-kisahnya kekal abadi dan menjadi sejarah penting sebagai “Insan Utama” yang dilahirkan ALLAH dengan membawa cahaya (agama) ALLAH. Pada masa ke-Nabi-annya lahir banyak pejuang-pejuang agama ALLAH yang tangguh, para keluarganya, sahabatnya, juga para tabi’innya. Dan hingga kini, ajaran yang dibawanya telah mencetak generasi tangguh dari golongannya (umatnya).

Sahabat, sudah selayaknya kita memaknai Maulid Nabi Muhammad SAW sebagai suatu penuntun agar kita senantiasa istiqomah berada dalam ajaran agama ALLAH (Islam) yang telah diajarkannya. Mencintainya dan bershalawat baginya…

Semoga ajarannya senantiasa mencahayai hidup kita…
Semoga teladannya senantiasa membimbing perjalanan kita…
Semoga cintanya senantiasa menghiasi hati kita…
Karena sungguh, Rasulullah sangatlah mencintai ummatnya…

Wallahu’alam bishawab…

Sumber :
1.       Sirah Nabawiyah, karya : Dr. Muhammad Sa’id Ramadhan Al-Buthy.
2.     http://id.wikipedia.org/wiki/Maulid_Nabi_Muhammad.




Read More

"KESEDIHAN" Bukanlah Sia-sia



Bismillahirrahmaanirrahiim…

Terkadang saat hati terasa tersakiti, mata pun menjadi terasa pedih. Ingin rasanya mata menitikkan tetes air matanya, terasa hati pun ikut menjerit seolah berkata “Perih rasanya tergores sakit ini, mampukah bertahan?”. Yang akhirnya diri pun terbawa rasa, benar-benar meneteskan air mata. Menangis tersedu seolah diri menjadi lemah dan sulit untuk bangkit.

Padahal, ALLAH selalu ada di samping hamba-Nya. Kapanpun hamba-Nya membutuhkan, DIA selalu bersedia hadir. DIA selalu siap menjadi tempat bersandar bagi hamba-hamba-Nya, baik dalam keadaan mudah maupun payah, sekalipun dalam rasa suka maupun duka. ALLAH selalu bersedia menjadi pendengar terbaik, menjadi tempat berbagi yang paling meneduhkan. Lalu untuk apa kita merasa lemah di hadapan suatu masalah? Padahal ada ALLAH Yang Maha Besar mendampingi kita setiap saat…

ALLAH mengajarkan hamba-Nya untuk selalu mengambil hikmah dari setiap apa yang dialami. Perjalanan hidup bukan tanpa tujuan, perjuangan hidup bukan tanpa hasil, pengorbanan diri bukan tanpa penghargaan. Setiap langkah hidup makhluk akan menjadi ibadah jika berjalan dengan niat semata karena-Nya, setiap detik perjuangan makhluk akan menjadi berkah jika diarungi untuk memperjuangkan agama-Nya, dan sedikit apapun pengorbanan akan menjadi berkah jika ikhlas untuk mendapat ridho-Nya.

Karenanya, kesedihan bukanlah suatu nilai penderitaan. Tapi tiap kesedihan adalah pembelajaran…
Sebagaimana Rasulullah SAW mengajarkan ketabahan bagi ummatnya yang sedang diberi ujian kesedihan, Hadis riwayat Abu Said Al-Khudri ra.:
Bahwasanya ia pernah mendengar Rasulullah saw. bersabda: “Tidak ada satu kepedihan pun atau keletihan atau penyakit atau kesedihan sampai perasaan keluh-kesah yang menimpa seorang muslim kecuali akan dihapuskan dengan penderitaannya itu sebagian dari dosa kesalahannya”. (Shahih Muslim No.4670)
ALLAH (melalui Rasul-Nya) menjanjikan suatu ganjaran terbaik bagi hamba-Nya yang mampu tabah dalam menyikapi kesedihannya.

Maka, berbahagialah selama kita memiliki ALLAH dalam hati kita. Selama kita menjadikan ALLAH sebagai tujuan hidup kita dan Rasulullah sebagai teladan kita. Tidak ada kesedihan yang berlarut, melainkan ALLAH akan menghapuskan dosa melalui ujian (kesedihan) yang DIA berikan…
Jadikan air mata lebih berarti, dan bukanlah sia-sia…
Tetap tempuh perjalanan dalam kebaikan dan dengan kesabaran…
HAMASAH….!!!


Read More

Jadilah Seperti "LEBAH", Bukan "LABA-LABA"

 
Bismillahirrahmanirrahiim...
Sahabat, kita belajar dari dua hewan kecil yuk. Pernah dengar kisah antara LEBAH dan LABA-LABA?
Coba, secara fisik kalian lebih suka Lebah atau lebih suka Laba-laba?
Apa yang tampak dari keduanya, ternyata menyimpan rahasia makna yang besar dibalik nama dan fisik mereka. Nama mereka diabadikan di dalam Al-Qur'an, agar kita dapat mengambil hikmah dari kehidupan mereka, ya Lebah (An-Nahl) dan Laba-laba (An-Ankabut).

Dalam hidupnya, laba-laba adalah binatang yang terlihat seram dan menakutkan, juga penipu dan pemalas. Banyak binatang lainnya takut untuk mendekat padanya. Ia memiliki kemampuan membangun sarang dengan membuat jaring-jaring seluas apapun yang diinginkannya, tetapi ia menjadikan jaring-jaring itu untuk menjebak mangsanya. Yang kemudian, hanya dengan menunggu ia pun berhasil mendapat mangsa untuk ia lahap sebagai santapan. Binatang apapun yang tersangkut di jaringnya, pasti akan binasa. Sebesar apapun jaring-jaring yang dibuatnya, tidaklah memiliki manfaat apapun untuk makhluk di sekitarnya. Bahkan, meski tampak kokoh, ternyata jaring laba-laba sangatlah rapuh.

Sedangkan dalam kondisi berbeda, lebah adalah binatang yang kadang tampak lebih kecil dibandingkan laba-laba. Ia juga tak lebih menyeramkan dibandingkan laba-laba. Tapi ternyata, lebah adalah binatang pekerja keras, jujur, pandai membagi tugas, dan banyak memberi manfaat. Lebah selalu berkeliling untuk mencari makanannya, mencari banyak bunga untuk dihinggapi yang kemudian akan dihisap nektar bunganya. Ia pun hanya akan mencari makan secukupnya, tidak suka menimbun makanan yang berlebihan. Lebah selalu memiliki pembagian tugas antara lebah ratu dengan lebah pekerja, sehingga memiliki disiplin kerja yang tinggi di sarangnya. Lebah juga tidak pernah mau merugikan apapun yang ada di sekitarnya, justru ia banyak memberikan manfaat mulai dari menyuburkan bunga, menghasilkan madu, bahkan sarangnya dapat dimanfaatkan sebagai bahan makanan bagi manusia. Sarangnya dibuat berbentuk segi enam bukannya lima atau empat agar tidak terjadi pemborosan lokasi.

Itulah gambaran perbandingan antara hidup lebah dengan laba-laba.

Sahabat, sebagai pemuda Muslim calon pewaris peradaban, sudah selayaknya kita meniru sifat lebah, bukan laba-laba. Kita harus mau bekerja keras dan selalu jujur, tidak menjadi orang yang serakah apalagi menjadi penipu yang tampak baik tapi ternyata berbahaya. Kita harus dapat memberi manfaat untuk orang banyak, jangan menjadi hidup yang sia-sia. Seperti firman ALLAH : “Dan Tuhanmu mewahyukan kepada lebah: "Buatlah sarang-sarang di bukit-bukit, di pohon-pohon kayu, dan di tempat-tempat yang dibikin manusia (QS. 16;68)", hal ini agar manusia dapat mengambil manfaat dari sarang lebah disekitar mereka. Dan satu hal yang paling penting, kita harus banyak berbuat agar menjadi pribadi yang kokoh dengan selalu bersandar kepada ALLAH. Sebagaimana ALLAH memberi pelajaran melalui firman-Nya : “Perumpamaan orang-orang yang mengambil pelindung selain ALLAH adalah seperti laba-laba yang membuat rumah. Dan sesungguhnya rumah paling lemah ialah rumah laba-laba, sekiranya mereka mengetahui (QS 29:41)”. 

Sumber :
1. Al-Qur'an.
2. http://www.mentaritimur.com/mentari/jan05/semut_lebah.htm.
3. http://www.debianindonesia.org/blog/?p=368.

Read More

Refleksi Buku "Untukmu Kader Dakwah"


Buku ini berisikan 10 hukum bai’at atau disebut 10 pilar komitmen da’i.
1. Al Fahmu
Al Fahmu yang dimaksud disini adalah pemahaman yang di dalamnya mencakup kemuliaan ilmu nafi’ (ilmu yang bermanfaat). Bukan hanya ilmu yang tersimpan atau tertimbun, akan tetapi ilmu dan pengamalannya. Seseorang harus menumbuhkan rasa “mau” untuk mencari ilmu bukan hanya tahu kewajiban mencari ilmu, yang setelahnya ilmu tersebut harus dipelihara dengan keahlian. Dengan menghargai ilmu maka wawasan kita akan masa yang sekarang dan yang akan datang semakin terbuka lebar.

2. Al Ikhlash
Al Ikhlash adalah segala perbuatan semata-mata hanya karena ALLAH dan untuk mendapat keridhoan ALLAH, tanpa terpengaruh pada penilaian manusia dan tidak memperhitungkan keuntungannya.
Ada tiga hal yang patut terus ada dalam hati seorang mukmin, yaitu :
1) Ikhlas beramal karena ALLAH.
2) Tulus terhadap pemimpin.
3) Setia pada jama’ah Muslimin.
Mukhlis orang yang menyerahkan amalnya kepada ALLAH.
Mukhlas orang yang hanya mengharap ridho ALLAH.
Dalam ikhlas diperlukan kejujuran hati yang semata-mata hanya untuk ALLAH. Apabila kemiskinan hati melanda orang berilmu maka dapat membuatnya menjadi tidak ikhlas.
Keikhlasan (menjaga diri dari perhatian makhluk) itu tidak terpengaruh dengan iming-iming duniawi dan beriringan dengan shidq (menjaga diri dari nafsu). Al- Ikhlash ini akan nampak dari loyalitas dalam beramal.

3. Al A’mal
Al A’mal adalah buah dari al fahmu (ilmu) dan al-ikhlash (keikhlasan).
Amal berkaitan erat dengan keshalihan yang kemudian akan melahirkan amal shalih yang harmonis dan tanasuk (serasi) dengan sasaran, tuntunan, tuntutan, dan daya dukung. Amal harus dilandasi ilmu, amal tanpa ilmu akan lebih banyak menimbulkan bahaya dibanding dengan manfaat.
Amal tanpa niat anaa (kelelahan).
Niat tanpa ikhlas habaa (debu, sia-sia).
Ikhlas tanpa tahqiq (realisasi) ghutsaa (buih).
Hama-hama amal : riya (untuk dilihat), ujub (kagum diri), sumah (untuk didengar/populer), mann (mengungkit pemberian).

4. Al Jihad
Al Jihad adalah berjuang, yang masanya takkan pernah berhenti sampai hari kiamat. Jihad yang paling rendah adalah ingkar hati dari kemaksiatan dan jihad yang paling tinggi adalah perang dengan senjata. Jihad hukumnya adalah fardhu kifayah, namun dalam artian “mencukupi”, sehingga seandainya orang-orang dalam suatu daerah belum dapat mencukupi jumlah untuk berjihad maka orang-orang yang berada di daerah yang lebih luas pun terkena kewajiban untuk berjihad membantu. Jihad merupakan amal yang paling mulia.

5. At Tadhiyyah
At Tadhiyyah adalah pengorbanan, baik jiwa raga, harta, waktu, dan segalanya guna mencapai tujuan. Jihad pun berkaitan dengan pengorbanan, karena tidak ada jihad tanpa pengorbanan. Iman dan amal shalih digemukkan dengan pengorbanan, semakin sedikit respon bagi kenikmatan syahwat maka semakin besar ruh berkorban dan kejujuran dalam berkorban. Tidak ada orang-orang besar yang menjadi pengukir sejarah tanpa pengorbanan dalam resiko yang besar, sebagaimana yang dialami oleh Rasulullah dan para sahabatnya. Pengorabanan akan menjadi shahih tatkala mampu mengantarkan supremasi tertinggi di hadapan ALLAH dan pengorbanan pun tidak hanya berdampak untuk generasi yang sekarang tapi juga ubtuk generasi berikutnya.

6. Al Tho’ah
Al Tho’ah adalah melaksanakan dan menjalankan perintah tanpa reserve dalam berbagai kondisi (ketaatan). Tidaklah layak taat kepada makhluk dalam rangka bermaksiat kepada Sang Khaliq dan beruntunglah orang-orang yang mampu mengorbankan kepentingan pribadinya dalam rangka taat kepada pemimpin yang syar’i. Yang dominan dalam ketaatan di antara manusia adalah keikhlasan. Loyalitas seseorang akan tampak dari ketaatan kepada pemimpin dan bukan hanya berorientasi pada figure melainkan lebih kepada risalah (misi).

7. Ats Tsabat
Ats Tsabat adalah ketegaran berjuang dalam kondisi apapun, hanya ada dua pilihan berhasil mencapai tujuan atau meraih syahadah. Keteguhan merupakan nafas rijalul haq (para pembela kebebnaran) yang didapat hanya dengan mu’ayasyah (berinteraksi) dan terjun langsung dalam dunia teguh yang dijalani Rasul dan para pewarisnya. Perlu adanya kesetaraan sifat dan sikap dalam memahami prinsip teguh dalam tsabat (tegar) dan kesabaran.

8. At Tajarrud
At Tajarrud adalah totalitas, membersihkan fikrah dari segala pengaruh dasar-dasar hidup dan pribadi di luarnya. Tidak ada kata istirahat bagi orang-orang yang telah mengazzamkan dakwah dan jihad sebagai jalan hidupnya, dan tertinggal dari pengorbanan akan mengalahkan totalitas (tajarrud) sebagai kemutlakan sikap dakwahnya. Kelezatan berkorban dapat diraih dari mujahadah (usaha keras), qana’ah (rasa penerimaan) dan keridhoan menghadapi cobaan dakwah.
Totalitas bukanlah bentuk fanatisme dan selayaknya para pejuang dakwah memiliki mental baja dalam menghadapi segala tuduhan, cercaan, dan cobaan dakwah.

9. Al Ukhuwah
Al Ukhuwah adalah menggabungkan hati dan ruh dengan tali aqidah, yang merupakan persaudaraan seiman. Persatuan akan terbangun dengan adanya cinta kasih, derajat cinta terendah adalah hati yang selamat dari buruk sangka terhadap saudara Muslimnya dan yang tertinggi adalah itsar (mendahulukan kepentingan saudaranya). Persaudaraan hendaknya dibingkai dengan amal jama’i dan disertai hanya dengan kecintaan karena ALLAH. Tali ukhuwah dalam jama’ah ini hendaknya tetap kokoh dan abadi baik dalam susah maupun senang tanpa terkeruhkan oleh keterbatasan sifat manusia. Ukhuwah yang jujur dan benar bukanlah ukhuwah hanya dengan yang segolongan saja, tetapi juga dengan orang-orang di luar golongannya dan berlandaskan kecintaan kepada ALLAH. Persaudaraan yang indah adalah tatkala berada di sampingnya ada banyak kebaikan dan manfaat yang didapat bukan tak ada saat dibutuhkan.

10. Ats Tsiqah
Ats Tsiqah adalah kepercayaan dan kemantapan hati seorang jundi kepada pemimpinnya dalam hal kemampuan dan keikhlasannya, yang dengannya akan muncul rasa cinta, hormat, dan taat. Dari kepercayaan inilah akan muncul kekuatan struktur dakwah, strategi, keberhasilan pencapaian tujuannya, dan mampu menghadapi rintangan serta kesulitan dalam dakwah. Dengan ketsiqahan inilah qiyadah dan jundi akan mampu memenangkan peradaban. Tsiqah harus lebih diutamakan saat menyangkut kepentingan rakyat banyak. Hal yang dapat melemahkan ketsiqahan adalah keragu-raguan yang datang dari fitnah. Pusat pengendalian tsiqah adalah tsiqah kepada ALLAH, yang dengan-Nya takkan ada lagi keragu-raguan dalam diri kita. Kekuatan hubungan dengan ALLAH, jujur, amanah, cinta kasih, dan kehangatan ukhuwah adalah hal-hal yang menyuburkan akar tsiqah, yang dengannya pengorbanan dan perjuangan sepedih apapun takkan menjadi keluhan melainkan senantiasa bersyukur, bersabar, dan sepenanggungan.

Sumber : Buku "Untukmu Kader Dakwah" karya Ust. Rahmat Abdullah.

Read More